Urgensi Ilmu dalam Amal Da’wah....

Monday, September 6, 2010

Ikhwatifillah rahimakumullah, hafalkan dan resapilah, target kepengurusan kita yang pertama adalah ”Membina kader pengurus sehingga memiliki kepribadian Islami”. Salah satu pilar kepribadian Islami (shaksiyyah Islamiyah) adalah cerdas dalam berilmu ...
Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Mujaadilah : 11)

Saudaraku ... ketahuilah, bahwa ‘amal da’wah adalah sebuah aksi. Aksi yang terjadi akibat adanya gaya dorong ‘ilmu dan keikhlasan. Tanpa gaya dorong itu –‘ilmu dan keikhlasan’ maka arah ‘amal da’wah kita seperti halnya orang lunglai yang sedang menuju ke suatu tempat. Seraya merasa bimbang, ragu, tak sabar untuk sampai, dan sedikit ‘disenggol’ terjungkallah ia. Ya, Terjungkal jatuh (musykil) sehingga pingsan tak sadarkan diri. Beberapa saat ia sadar, ia telah lupa tujuan perjalanannya. Dan akhirnya ia berbalik arah .... pergi entah ke mana ...

Ahammiyatul ’Ilmu (Urgensi ’Ilmu)

Saudaraku ... Para fuqaha berkata, ”Ketahuilah bahwa mempelajari ilmu hukumnya fardhu ’ain, yaitu sesuai dengan apa yang dibutuhkan manusia untuk agamanya dan fardhu kifayah, yaitu apa yang ditambahkan kepada fardhu ’ain sebab bermanfaat untuk orang lain.” (Al-Islam. Sa’id Hawwa. Hal 628. Gema Insani Press).

Pelaku transaksi robbani dan peran para du’at dalam kapasitas nya masing-masing mutlak memerlukan pengayaan ’ilmu. ’ilmu agama sebagai fardhu ’ain dan ’ilmu keahlian sebagai fardhu kifayah. Ini adalah kaidah umum bagi siapapun, apalagi kita yang berada pada level ’pejabat da’wah kampus’. Yang seharusnya sudah mesti melangkah jauh untuk mapan dalam hal ilmu agama. Tersindirkah kita dengan pepatah arab yang berbunyi : ”faqidusysyai’i laa yu’thii, orang yang tidak mempunyai apa-apa tidak dapat memberikan apa-apa ... ”

Ini berlaku pada kerja da’wah yang kita jalani ini. Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa ’amal dibangun atas ’ilmu. Maka da’wah juga harus dipahami sebagai refleksi keilmuan sang penyeru da’wah tersebut. Tak pelak bagi kita untuk jadi manusia ’kaya’ ilmu, yang mengalir dari kita mata air ilmu kepada manusia ... sehingga kita berdiri di atas hujjah yang kuat menerangkan al-Haq kepada mereka ...

Saudaraku ... betapa pentingnya ilmu bagi kita. Betapa pentingnya ilmu bagi da’wah kita. Sehingga ROHIS sebagai lembaga da’wah kampus tentu memerlukan kader pengurus yang kapabel terhadap ilmu. Dimulai ilmu yang fardhu ’ain hingga yang kifayah. Yang ’ain adalah bagaimana kita mengenali hak Pencipta dan mengetahui hak makhluk sesuai dengan syari’at. Ini tertuang dalam ushuluts tsalasah (3 landasan pokok) Allah, Ar-Rasul, dan Al-Islam. Juga bagaimana Islam mengajari fiqh ibadah, mu’amalah, dan fiqh lainnya kepada kita. Mengajari metode pembersihan nafs –jiwa- demi menggapai akhlakul karimah. Mengajari sejarah para Nabi, Rasul, Tabi’in, dan orang-orang sholeh. Sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk mengatakan ’cukup’ dari menuntut ilmu.

Wasilah-wasilah Tarbiyah (Perangkat-perangkat Tarbiyah)

Taman Qur’ani

Saudaraku ... Irikah kita kepada Abdullah bin Mas’ud, number one guru Al-Qur’an yang ditunjuk Rasulullah bagi para shahabatnya. Irikah kita kepada Ubay bin Ka’ab, yang Allah menyuruh kepadanya membacakan Lam yakunil ladzina kafaru sehingga beliau menangis (HR. Al-Bukhori Muslim). Jika engkau tak iri maka malulah engkau!

Saudaraku ... engkau mengetahui bahwa Taman Qur’ani telah disediakan sebagai sarana pendekatan diri kepada Al-Qur’an. Ini adalah terminal ruhiyah pertama. Terminal untuk berkhalwat dengan Allah dalam lautan ruhiyah yang segar dan mantap. Memperbaiki bacaan sesuai dengan bacaan Rasulullah dan para shohabat.

Kajian Kamis dan Ahad

Halaqoh / Liqo Pekanan




Hadits Shahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim, dari Abi Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anha berkata : Nabi bersabda : Kalian pasti akan mengikuti jejak orang-orang sebelummu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga bila mereka dahulu itu masuk lubang biawak pasti kalian akan mengikutinya (Al-Lu’Lu Wal Marjan hadits no. 1708)

Ikhwatifillah ... Dakwah adalah memberi produk. Produk robbani yang turun melalui wahyuNya secara perlahan melalui usaha-usaha pengembang dakwah. Pengemban dakwah inilah sebagia pemasarDan sebelum memberi, si pemberilah yang mula-mula menerima produk. Produk didistribusikan

kita harus senantiasa mengisi diri kita dengan ilmu serta hujjah-hujjah yang kuat dalam iringan gerak dakwah kita. Kita tidak menginginkan adanya ikhwah yang berlari kencang ke suatu tujuan tanpa ia tahu ke mana ia harus menuju. Kita pun tidak menginginkan

Aqidah


Al-Fahmu

Hujjah

0 comments:

Post a Comment

 
 
 

Sms Gratis

Pengikut Blog